Minggu, 09 Agustus 2009

EKSPEDISI PULAU SEMPU


Bermula dari acara buka bersama di rumah Fitri, ada ide ekspedisi ke pulau sempu yang masih terasa asing mendengarnya. Tadinya saya (Penulis:Yudi Capelo) pesimis untuk ikut, maklum nggak bisa berenang. Pake acara nyeberang laut lagi. Trus harus ada waktu libur yang panjang minimal 4 hari. Setelah sekian lama tak ada kabar sampai lebaran lewat, setiap ditanya jawabannya selalu tidak pasti (masih dirapatkan).
Akhirnya sepakat berangkat hari Kamis 25 Desember 2003 (setelah 3 hari sebelumnya dilakukan survei, tepatnya hari Senin 22 Desember 2003 by Joko & BI). Sore jam 17.00 Wib ketemu di Bungurasih di ruang tunggu depan Dunkin Donat. Jumlah yang ikut 17 orang terdiri dari 13 cowok dan 4 cewek. Seperti biasanya ngaret sampai jam 19.00 Wib dan baru berangkat 22 menit kemudian. Bus yang ditumpangi kebetulan kenceng banget, nyampe Arjosari jam 20.50 Wib. perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot AMG ke rumah kakaknya Joko, nyampe jam 21.30 Wib. Bikin makan malam (mie rebus), kopi, and makan malam terus tidur, tapi ada yang langsung main sepak bola (PS) sampe hampir pagi baru selesai kaya siaran langsung Liga Champion aja.
Pagi hari, Jum'at 26 Desember 2003 sekitar pukul 05.45 berlima (BI, Roy, Hery Cepeng, Aku (Yudi Capelo) & Basori) jalan-jalan nyari wartel dan golek sarapan. Baru ketemu setelah jalan kira-kira 20 menit kemudian. Beli sari puspa, baterai kecil dan bola plastik. Kembali ke tempat menginap mandi, becanda nunggu angkutan menuju ke pantai Sendang Biru. Mencoba untuk nambah tidur, eh tiba-tiba mobil jemputan (Colt L-300) datang dan langsung berangkat saat itu juga sekitar pukul 07.30 Wib, diluar dugaan dua orang mengundurkan diri karena alasan kurang persiapan, yang satu ternyata memang sejak semula tidak punya keinginan untuk ikut, tinggal 14 orang yang berangkat melanjutkan ekspedisi.
Mampir Sebentar di Pasar Turen beli film, makanan kecil, air mineral, alat cukur Gillete Goal, cari bahan bakar spertus, gas cooking hanya 20 menit saja, terus melanjutkan perjalanan. Ditengah perjlanan, HPnya Toto menyalak ternyata berita duka yang nyampe. Seorang teman wanita telah melahirkan. Anaknya selamat tetapi malang, si ibu harus pulang kepada sang Kholiq. Semoga si ibu diterima amal dan ibadahnya serta mendapat tempat yang baik disisi-Nya, yang ditinggal diberikan ketabahan dan tawakal amien. Tepat pukul 10.00 Wib rombongan baru tiba di pantai Sendang Biru, maklum jalanan berkelok-kelok (sepuluh meter nikung bahkan ada yang habis nikung, 3 M ke depan nikung lagi) naik turun terutama etape Turen - Sumber Manjing, Sumber Manjing - Sendang Biru. Selain kondisi mobil lumayan udah uzur juga banyak terjadi penyempitan jalan karena bekas terjadi longsor. Terpencar wajah-wajah sedikit pucat kelaparan, karena memang dari pagi belum makan. Haus mungkin sedikit pusing karena capek dikendaraan. ke-9 orang yang belum makan bergegas pesan makanan di warung Pak Di. Bahkan yang pagi sudah sarapan ikutan juga (sarapan kedua) mengingat sebentar lagi menyeberang dimana uang tunai, kartu kredit apalagi tak dapat berfungsi sama sekali alias tak ada peradaban.
Joko sibuk mencari Pak Di bersama BI sementara teman yang lain pada makan & minum santai di warung. Beberapa menit kemudian Pak di muncul setelah dicari oleh seorang laki-laki yang mungkin adalah anak buahnya. Joko dan BI bergegas ke perijinan atas saran dari Pak di. Selang beberapa menit kemudian mereka kembli serta mengajak kawan-kawan yang lain untuk beli aqua galon dapat satu dekat warung Pak Di kurang satu lagi pinjam galon kosong warung tersebut atas rekomendasi Pak Di. Belinya lumayan jauh, setelah nyampe toko yang dituju langsung beli aqua, minyak goreng 1,5 liter, bola plastik, tablet diatab. BI & Agus membawa galon ke tempat kita kumpul (warung Pak Di). Sementara bola tak bawa (Yudi Capelo), minyak dan diatab dibawa Joko. Kami jalan-jalan menuju pantai melihat-lihat orang sibuk bekerja dengan jaring pukatnya, memperbaiaki kapalnya.
Selang beberapa saat Antok ngingetin kita untuk Sholat Jum'at. Sempat juga aku ditegur nelayan kecil "Jumatan kok bawa bola" katanya. Kami bergegas ke Masjid, ambil air wudlu dan mengikuti prosesi ibadah Jum'at. Mungkin karena kecapekan semua, meskipun sebelah selatan masjid ada speaker yang lumayan memekakkan telinga toh tidak mengurangi nikmat tidur kami walaupun sekejap (perasaan), khotbah yang pendek tapi mengena dan pas momentnya "Merry X-mas".

Selesai Jum'atan, berkemas-kemas segera menunggu Joko & Agus. Sebentar kemudian mereka datang, menurut ibu penjaga warung, Pak Di sudah menunggu di pantai tempat perahu bersandar, rombongan bergegas berangkat menuju pantai yang dimaksud. Sekitar pukul 13.00 perahu mulai berangkat menuju pulau sempu setelah kami semua naik, tidak ada yang tertinggal seorangpun.
Tampak wajah-wajah ceria seakan tak sabar untuk segera mendarat dan merambah Sempu. Sambil menikmati pemandangan laut yang indah, aku (Yudi Capelo) berinisiatif untuk mengambil beberapa gambar untuk dokumentasi. Perahu terus melaju, sekitar 25 menit kemudian perahu mendarat. Namun apa daya perahu kandas sehingga terpaksa harus angkat celana agar tidak kena air laut. Disitu terdapat tulisan CAGAR ALAM PULAU SEMPU Luas 877 Ha, SK Gubernur No. $^ STBLD No. 68 tgl 15 Maret 1928 seakan mengucapkan selamat datang para petualang, mereka yang muda yang berhati muda. Entah apa yang ada di benak kawan-kawan tidak seperti biasanya selalu berdoa bersama sebelum melangkah, tapi tidak pada waktu itu kita langsung saja berjalan memasuki hutan pulau Sempu. Nah disitulah kesabaran kita diuji, hujan tiga hari membuat jalan setapak manjadi becek dan licin. Sandal jepit, sandal gunung sekalipun tak dapat berfungsi dengan baik. Terpaksa berjalan tanpa alas kaki (ceker) dengan resiko cedera kaki semakin tinggi.
Beberapa kawan ada yang terpeleset dan jatuh, perjalanan terasa begitu lama nggak sampai2 tujuan. Terlebih lagi ada 2 galon yang membebani. Sekitar pukul 16.00 kami sampai di Segoro Anakan setelah 2,5 jam lebih berjalan tertatih-tatih. Joko langsung nyebur berenang diikuti yang lain, Amin menggelindingkan galon ke air laut dan mencucinya. Rasa capek yang mendera seakan hilang melihat pemandangan yang indah, tiba-tiba ada berita tidak menggembirakan dari Amin bahwa ada satu galon ketinggalan, Kami sepakat mengabilnya besok pagi.
Tanpa basa-basi Basori segera mengambil tasnya bergegas mencari temat agak kedalam menghindari hembusan angin yang cukup kencang untuk mendirikan tenda dibantu Yudi Capelo, kawan-kawan melakukan hal serupa. Amin menyiapkan makan malam dengan menu mie, sayur sop dan goreng tempe. Selesai makan pada menunaikan sholat maghrib, selanjutnya ada yang main truf dan bercanda.
Pagi harinya (tgl 27 Desember 2003), setelah mengambil air wudlu serta sholat subuh. Kawan2 dikejutkan dengan volume galon yang berkurang drastis serta berpindah dari tempat asalnya, tapi sesaat kemudian keadaan dapat teratasi, kawan2 naik keatas melihat ganasnya ombak laut selatan berfoto bersama, setelah puas melihat pemandangan alam, BI mengajak kawan2 bermain bola dipantai. Pertandingan berlangsung seru, sempat juga tukar tempat layaknya pertandingan bola sungguhan. Skor susul menyusul tim Joko sebagai pemenangnya dengan skor 6-4, setelah capek main bola acara dilanjutkan sarapan dan mencari galon yang tertinggal.
Waktu menunjukkan pukul 07.00 Wib waktu tim ekspedisi yg terdiri dari delapan orang (BI, Joko, Heri Cepeng, Toto, Antok, Agus, Roy dan Yudi Capelo) berangkat. Cepeng bilang kalau letak galon berada setelah sungai sebelah kanan jalan dan ditutupi dedaunan. Sambil bercanda berjalan terus kedepan tanpa disadari posisi itu sudah terlewati, malah kita nyampe di pantai waktu kita mendarat. Perasaan campur aduk antara capek, haus, cemas kalau2 galon itu tidak ketemu. Semua pada saling menyalahkan, ditengah kebuntuan itu kami berunding Cepeng & Toto kembali ke Segoro Anakan untuk meminta Amin membantu mencari galon, sisanya menuju patok 13 untuk mencari sumber air tawar. 5 Menit berselang terdengar teriakan bahwa galon sudah ditemukan. Alhamdulillah, setelah kami minum sampai puas baru air dibagi di botol kecil dan semua kebagian bawa. 4 jam berlalu kami tiba di perkemahan dan disambut bak prajurit yang baru puluang dari medan pertempuran.
Ditengah panas yang terik (pukul 11.00 Wib) BI mengusulkan untuk main polo air, tim dibagi menjadi 2 tim A terdiri dari BI sebagai ilcapitano, Toto, Agus, Amin & Yudi Capelo. Sedangkan tim B terdiri dari Joko sebagai ilcapitano, Cepeng, Roy, Antok, Adit dan cewek-cewek sebagai suporternya.
Hari itu minggu 28 Desember 2003 masih pagi sekitar pukul 06.14 rombongn berangkat meninggalkan pantai segoro anak. Kawan2 berjalan dengan santai dan wajar2 saja, setelah berjalan sekian lama rombongan terpecah menjadi beberapa bagian. Agus, Retno, Antok, Toto ada di depan. Yudi Capelo, Fitri, Amin dan Cepengberada di tengah. Sedangkan Joko, Aditya Abi, Roy dan BI berada di belakang. Pada saat mau melintasi dua buah pohon besar kami bertemu dengan kawan2 dari UWM yang sedang bercanda, kami minta tolong untuk diambilkan gambar dengan latar belakang 2 pohon besar tadi. Beberapa menit kemudian kami samapai di pantai pukul 07.24 setelah 1 jam 13 menit kami berjalan.
Kondisi udara saat itu sejuk, dengan suhu 30 derajat tekanan udara 1.011 mili bar dan tempat kami berpijak tercatat 15 meter DPL, disitu kami mengambil gambar bersama dengan bantuan kawan dari UWM. Setelah selesai kami berpesan agar Pak Di segera menjemput. Kawan2 main truf lagi, Amin nambah tidur, Fitri & Retno juga demikian. Basori & Yudi Capelo main keong. Air berangsur-angsur pasang, sesaat kemudian Pak Die sudah datang sekitar jam 09.00. Akan tetapi perahu tidak berani menepi karena takut kandas. Pak Di melepas anker perahunya di tengah. Kawan2 dipaksa untuk ketengah berjalan dengan resiko celana basah. Apa boleh buat, jadi seperti korban kebanjiran yang lagi dievakuasi menuju tempat yang aman.
15 menit kemudian semua kawan2 sudah ada di atas perahu. Selamat tinggal Sempu, mungkin kami bertamu lagi dilain waktu. Pak Di sibuk mengomando anak buahnya untuk bertindak seperlunya dibantu kawan2 untuk memindahkan perahu ke tengah laut. Tidak seorangpun dari kami yang tampak murung semua gembira. Sekitar pukul 10.00 kami mendarat, kami kembali ke peradaban. Kami langsung pesan es campur, makan, mandi, ganti baju dan menunggu mobil jemputan datang. Kami berpamitan kepada Pak Di dan berkemas 5 menit kemudian kami berangkat pulang.